Muhammad Fitriani, S.HI.
Bina Rohani RS Islam PKU Muhammadiyah Palangka Raya
Kehidupan adalah perjalan seorang anak manusia, mulai dari langkah kecil sampai berlari merupakan suatu perubahan, dimana masa perubahan itu membawa pada suatu fase dimana semua hikmat sudah mulai dikurangi karena penurunan fungsi fisik dan mental secara bertahap yang memerlukan penyesuaian gaya hidup serta pola perawatan khusus yang disebut masa lanjut usia (lansia).
Lansia merupakan tahap akhir dari siklus kehidupan manusia yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Lanjut usia (Geriatri) merupakan seseorang yang memasuki usia di atas 60 tahun, pada masa ini seseorang akan mengalami banyak perubahan baik secara fisik, psikologis, spiritual maupun psikososial.
Manusia akan mengalami proses menua (lansia) seiring bertambahnya usia. Penuaan ini merupakan suatu proses alamiah yang terjadi pada manusia dalam kurun waktu yang lama, langkah dimasa tua tak lagi panjang, tapi justru disitulah arah menjadi terang. Bukan lagi soal ke mana kaki akan melangkah untuk dijadikan tujuan, melainkan ke mana jiwa akan pulang dengan tenang (husnul khotimah). Di antara dua tempat yang semakin akrab untuk dikunjungi pada masa lansia yaitu masjid dan rumah sakit.
Masjid merupakan sebuah ruang untuk memanggil seseorang hamba untuk tunduk dan patuh dengan kelembutan dari sang pencipta (Allah). Rumah sakit merupakan sebuah tempat perjuangan untuk melawan penyakit atau panggilan yang tak bisa ditunda dalam hal mempertahankan nyawa (kehidupan).
Di masjid manusia masih punya pilihan untuk datang kapan dia mau, sedangkan Di rumah sakit sering kali manusia datang karena dipaksa keadaan (sakit) yang tidak bisa untuk ditunda. Dimasjid dengan hamparan sajadah mengajarkan khusyuan, tunduk (patuh) sebelum tubuh benar-benar tak mampu berdiri. Ranjang perawatan rumah sakit mengajarkan pasrah ketika semua daya baik itu tenaga (kekuatan), rasa (perasa), bahkan keceriaan (raut wajah) telah ditarik pergi secara perlahan.
Di masa lansia, hidup seperti dipersempit pada dua ruang yaitu ruang ibadah (masjid) dan ruang perawatan (rumah sakit). Namun sesungguhnya yang diuji bukan tubuh (raga/jiwa) melainkan kesadaran.
Kesadaran untuk memahami waktu yang dulu terasa panjang, kini terasa singkat. Serta kesempatan yang dulu diabaikan, kini terasa mahal. Masa tua bukan sekadar fase menua, tetapi fase pembuktian apa yang dulu ditanam, kini dituai tanpa bisa ditawar (diskon).
Jika masa muda dipenuhi ambisii dalam mengejar dunia (kesenangan) baik itu jabatan bahkan harta, maka masa tua sering dihantui kegelisahan. Namun jika masa muda disirami iman (beribadah), maka masa lansia menjelma menjadi ketenangan, meski tubuh mulai rapuh. Ada yang tetap melangkah ke masjid dengan kaki gemetar karena hatinya sudah terbiasa pulang ke sana. Ada yang terbaring di rumah sakit namun lisannya tetap basah oleh zikir, karena hatinya tak pernah jauh dari Tuhan.
Di titik ini, perbedaan fisik menjadi tidak lagi penting. Yang menentukan hanyalah kebiasaan jiwa. Sebab pada akhirnya, masjid dan rumah sakit bukanlah dua dunia yang bertolak belakang, melainkan dua pintu menuju satu tujuan yang sama yaitu pulang kembali kepada Tuhan dalam keadaan damai (Husnul khotimah).
Hanya saja yang satu dipanggil dengan kesadaran, yang satu lagi sering didatangkan dengan peringatan (sakit). Maka pesan yang tersisa sederhana, tapi sering diabaikan: jangan tunggu sakit untuk mengingat. jangan tunggu lemah untuk bersujud. Karena ketika tubuh masih kuat, itu bukan sekadar kesehatan melainkan semua itu adalah undangan sang pencipta (Tuhan).
Dan ketika tubuh mulai terbaring, itu bukan sekadar ujian. Tapi adalah teguran dari sang pencipta yang selalu sayang pada umatnya. Hubungan yang tak bisa dihindari antara masjid untuk memanggil sebelum kita benar-benar dipanggil. Rumah sakit menahan sebelum kita benar-benar dipulangkan. Di antara keduanya, hanya ada satu pembatas yang tak kasat mata tapi bisa dirasakan oleh hati (kesadaran) yaitu kesempatan dan waktu. (MF)

